SumberIlustrasi: PAXELS. Tantangan Guru Dalam Digitalisasi Pembelajaran. Tahun ajaran baru 2021/2022 akan segera di mulai. Persiapan dan strategi menyambut tahun ajaran baru pun seharusnya sudah mulai tersusun secara matang. Persiapan yang matang tentu akan berimbas pada sebuah kualitas pendidikan dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan Banyaksiswa dan guru berpenghasilan rendah tidak memiliki perangkat digital atau keterampilan yang diperlukan untuk pembelajaran berbasis digital atau online ini. Menurut data dari UNICEF, pada tahun 2020, sebanyak 67% guru melaporkan kesulitan dalam mengoperasikan perangkat dan menggunakan online platform dalam proses pembelajaran. Apalagisebagian besar guru - guru tidak lahir di era digital. Kami para guru yang lahir sebelum digital marak disebut digital immigrant [2]. Yaitu mereka yang lahir diatas tahun 80 - an sehingga tidak menguasai teknologi atau baru mengenal teknologi setelah dewasa. Sehingga para guru sering gagap teknologi karena sangat canggung dengan teknologi. Erainilah yang disebut sebagai era digital atau era informasi. Era yang memunculkan pemuda enterpreuner seperti Nadiem Makarim, CEO Gojek, Ahmad Zaky, CEO Bukalapak, Abdul Wahab CEO Santri Online Apasaja tantangan guru di era digital? Setiap guru harus mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman, dengan terus melakukan update informasi. Tepatnya, di era yang serba digital ini, setiap guru harus mampu beradaptasi dengan cara mengubah metode pembelajaran agar sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan siswa. Apa itu era digital? Gurusebagai ujung tombak di sekolah pada era ini dan era selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan TIK yang dapat mengubah infromasi baik yang tadinya berwujud tulisan, gambar, maupun suara menjadi wujud kumpulan lambang bilangan 0 dan 1, yang sering disebut digital. Dalam bentuk baru semacam ini informasi tersebut D3QnX. Di abad 21 atau yang sering disebut sebagai era digital, guru memiliki peran yang sangat signifikan dalam pendidikan. Peran guru kian penting seiring tugas utama yang diembannya, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Alih-alih sebagai tenaga pendidik, seorang guru juga memiliki tanggung jawab besar untuk memajukan dunia pendidikan. Kepada para guru pula, masyarakat menitipkan keberhasilan anak-anaknya mengenyam pendidikan. Seiring waktu berjalan, tantangan guru di era digital kian berat dan kompleks. Setiap guru harus mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman, dengan terus melakukan update informasi. Tepatnya, di era yang serba digital ini, setiap guru harus mampu beradaptasi dengan cara mengubah metode pembelajaran agar sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan siswa. Apa Itu Era Digital? Penting mengetahui apa itu era digital sebelum kita membahas lebih jauh tentang bagaimana guru berperan dalam bidang pendidikan di era digital? Digital adalah sebuah teknologi terkini yang memungkinkan Anda lebih mudah dan cepat menerima informasi apapun serta menyebarluaskannya ke berbagai belahan dunia. Dengan dukungan sistem komputerisasi dan jaringan internet secara penuh, teknologi digital berkembang sangat cepat ke seluruh antero jagat raya. Era digital memang telah menyebabkan dunia tanpa batas borderless. Berkat komputer dan jaringan internet, apapun peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain dapat Anda saksikan secara langsung real time. Era digital telah mengubah pandangan dunia tentang politik, ekonomi, sosial, termasuk dalam dunia pendidikan. Khusus dalam dunia pendidikan, era digital sangat mewarnai perkembangan dunia pendidikan. Untuk itu, guru sebagai salah satu stakeholders pendidikan, memiliki peran yang sangat strategis dalam proses pembelajaran di era digital. Agar tidak ketinggalan informasi yang berubah sangat cepat, seorang guru harus terus melakukan updating informasi. Hal ini penting guru lakukan untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar di kelas. Pembelajaran di era digital, termasuk model pembelajaran daring, di tengah pandemi covid-19, menuntut seorang guru untuk lebih kreatif mencari cara pembelajaran yang efektif. Belajar di era digital itu sendiri tidak mengenal ruang dan waktu. Seorang guru harus mampu membawa siswa ke dalam dunia maya dengan segala sifat-sifatnya yang serba digital. Guru di era digital juga bukan semata-mata berperan sebagai tenaga pengajar yang memberikan ilmunya kepada para siswa. Jauh dari itu, seorang guru harus mampu memotivasi dan menginspirasi para siswa. Jika demikian, guru harus muncul sebagai sosok teladan yang baik, yang selalu menjadi contoh bagi para siswa. Agar bisa berperan optimal, seorang guru perlu menjaga profesionalitasnya, baik sebagai pribadi maupun tenaga pendidik. Termasuk meningkatkan kompetensi untuk mengantisipasi perkembangan dalam pembelajaran. Bagaimana Peran Guru di Era Digital? Saat ini, tantangan guru juga semakin besar dan kompleks. Lantas, bagaimana guru menghadapinya? Berikut beberapa peran strategis guru dalam bidang pendidikan di era yang serba digital ini. Mengajarkan Konsep Abstrak Dalam dunia pendidikan, era pendidikan disebut juga dengan era digital. Menyongsong era digital, peran guru menjadi semakin beragam dan kompleks. Apa indikasinya? Peran guru di era digital tidak hanya mengajarkan kepada para murid untuk bisa mengerjakan soal-soal ujian. Lebih kompleks dari itu, siswa tidak hanya bisa menyelesaikan soal namun juga paham akan konsep dasar dari soal yang mereka kerjakan. Dalam hal ini, penguasaan teori menjadi sangat penting. Seorang guru harus memastikan bahwa siswa telah paham tentang konsep dasar suatu ilmu yang mereka pelajari. Dengan menguasai teori/konsep dan prakteknya, siswa akan memahami manfaat ilmu dalam jangka pendek dan jangka panjang. Agar para murid menguasai konsep dasar suatu bidang ilmu, seorang guru bisa mengajarkan konsep-konsep yang bersifat abstrak. Selanjutnya, konsep-konsep yang abstrak itu Anda kombinasikan dengan kegiatan siswa sehari-hari. Karena konsep itu umumnya cukup sulit, guru harus mengajarkannya dengan cara yang mudah mereka pahami. Jelaskan konsep tersebut dengan bahasa yang sederhana agar mereka lebih mudah memahaminya. Tentu, untuk bisa menjelaskan konsep yang sulit dengan bahasa yang sederhana itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai seorang guru di era digital, Anda harus banyak membaca agar selalu update informasi. Anda juga perlu banyak berlatih dan mempersiapkan diri dengan matang sebelum memberikan pelajaran. Mengajarkan konsep abstrak kepada anak-anak akan mendorong mereka memiliki pemahaman teori yang mendalam, sekaligus bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengajak Siswa Belajar Aktif Peran guru selanjutnya di era digital ini adalah bagaimana seorang guru bisa memberikan pelajaran kepada para siswanya untuk bisa belajar secara aktif. Artinya, mereka tidak hanya menguasai konsep/teori namun juga menguasai prakteknya. Siswa bisa menerapkan ilmu yang diperoleh untuk membantu masyarakat di lingkungannya. Dalam pembahasan soal isu pencemaran lingkungan, misalnya, seorang guru bukan hanya membuat siswa paham akan bahaya pencemaran lingkungan. Namun juga mendorong siswa untuk turut mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Bagaimana caranya? Guru lantas menunjukkan cara prakteknya, misalnya dengan menyediakan tempat sampah agar siswa tidak membuang sampah di sungai, dsb. Intinya, ajak siswa untuk selalu hidup disiplin dan menghargai lingkungan. Upaya yang Anda lakukan itu juga merupakan bagian dari ajaran agama baca Islam yang perlu Anda sampaikan kepada murid-murid agar lebih paham tentang agamanya. Islam mengajarkan tentang pentingnya hidup bersih dan menjaga lingkungan hidup dari pencemaran. Ini prinsip-prinsip dasar dalam ajaran Islam. Kami, di Prestasi Global menerapkan prinsip-prinsip Islami untuk membantu siswa memahami dan mencintai agama Islam dengan baik. Mari bergabung bersama kami. Menjadikan Pintar Sekaligus Kreatif Hidup di era digital harus memiliki multitalenta. Seorang siswa akan kalah bersaing ketika hanya mengandalkan kecerdasannya tanpa menguasai aspek penting lainnya. Disinilah pentingnya peran guru dalam pendidikan, yakni tidak hanya menjadikan murid pintar namun juga punya kreativitas tinggi. Dua komponen pintar dan kreatif inilah yang siswa butuhkan di era digital. Ada banyak contoh kasus, murid pintar namun miskin kreativitas. Atau sebaliknya, murid kreatif namun dalam hal ilmu kurang menguasai. Adalah menjadi tugas guru untuk mengkombinasikan keduanya. Pintar tapi kurang kreatif bisa Anda lihat dari cara siswa berkomunikasi. Siswa pandai namun kurang kreatif umumnya kurang bisa berbagi ilmu dengan siswa lain. Mengapa? Karena siswa yang kurang kreatif cenderung mengalami masalah dalam komunikasi. Mereka biasanya sulit untuk bergaul dengan temannya yang lain. Mengingat pentingnya kreativitas bagi siswa, guru harus serius dan berupaya keras untuk merealisasikannya. Upaya ini sekaligus untuk mempermudah murid menerima pelajaran dari guru. Dengan menjadikan anak kreatif, mereka juga akan mudah menerima informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan di era digital. Lantas, bagaimana seorang guru bisa melatih kreatifitas anak didiknya? Hal pertama yang harus guru lakukan adalah dengan menambah wawasan. Barangkali akan sulit mengajak anak kreatif sementara gurunya tidak memiliki wawasan yang cukup. Padahal, wawasan yang luas akan menjadikan seorang guru lebih inovatif. Sifat inovatif sendiri merupakan syarat yang harus guru miliki untuk mendukung proses belajar mengajar dan menjadikan muridnya lebih mudah menangkap pelajaran yang ada. Selain wawasan yang luas, kini banyak guru belajar tentang referensi mengajar untuk mendukung usahanya menjadikan siswa kreatif. Jadi, selain wawasan yang luas, guru juga perlu memiliki banyak referensi. Menguasai Bahasa dan Budaya Era digital juga identik dengan dunia tanpa batas. Artinya, dunia digital saat ini tidak mengenal ruang dan waktu serta menghilangkan batas-batas wilayah suatu negara. Dunia kini telah menyatu, yang ditandai dengan semakin bercampurnya bahasa dan budaya di dunia. Isu ini harus disikapi oleh seorang guru untuk mendukung perannya sebagai tenaga pengajar di era digital. Bahasa dan budaya adalah dua aspek penting dan merupakan kunci untuk membuka jendela informasi dunia. Seorang guru tidak bisa mengembangkan metode pembelajaran dengan baik di era digital ini tanpa menguasai bahasa dan budaya yang ada di dunia. Dalam hal penguasaan bahasa, misalnya, seorang guru wajib menguasainya. Sebab, dia akan menghadapi murid-murid dengan berbagai latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda. Dan, bahasa yang lazim digunakan dalam pergaulan dunia adalah bahasa Inggris. Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris sudah menjadi alat komunikasi untuk mengajar di sekolah-sekolah internasional. Jadi, untuk mendukung perannya di era global, seorang guru minimal harus menguasai bahasa Inggris. Tentu tidak cukup hanya menguasai secara pasif melainkan harus secara aktif. Apalagi, menjadi bahasa pengantar dalam pembelajaran, seorang guru harus bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Secara pribadi, penguasaan bahasa asing baca Bahasa Inggris juga penting dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan perannya itu. Untuk menguasai bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, tidak perlu strategi khusus. Yang Anda perlukan adalah kerja keras, ulet dan pantang menyerah. Anda harus banyak berlatih atau mempraktekkan percakapan dengan teman atau orang lain. Bahkan, jika perlu, sesekali pergi ke tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Disana, Anda bisa berlatih conversation dengan para turis untuk memperlancar bahasa Inggris Anda. Tidak perlu minder, tetap percaya diri bahasa Anda bisa melakukannya. Kesimpulan Sebagai kesimpulan, tugas dan tanggung jawab guru di era digital ini kian kompleks. Guru memiliki peran yang lebih besar dari sekadar memberikan ilmu kepada peserta didik. Lebih dari itu, seorang harus harus mampu menjadi agen perubahan agent of change bagi murid-muridnya. Guru harus mampu mengubah perilaku murid-murid menjadi pribadi yang mulia dan terpuji. Disinilah peran guru yang tidak akan bisa tergantikan oleh teknologi apapun. Yakni, cara mendidik seorang guru yang berbeda dengan media-media pembelajaran. Seorang guru ketika mendidik siswa-siswanya tentu dilakukan dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Hal yang tidak murid dapatkan ketika belajar dari media-media di internet. Mengingat pentingnya kehadiran seorang guru di tengah-tengah muridnya, saat pandemi covid-19, ada beberapa sekolah yang berani’ menerapkan blended learning ini. Yakni, sebuah praktek pembelajaran yang mengkombinasikan model tatap muka dengan pembelajaran daring online. Akhirnya, peran guru bisa dikatakan berhasil dalam pendidikan di era digital ketika mampu melahirkan anak-anak yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik namun juga memiliki sifat yang terpuji dan berbudi luhur. Baca Juga Peran Orang Tua Kepada Anak di Masa Sekarang Sangat Penting! Seberapa Pentingkah Peran Itu?? Apa saja tantangan guru di era digital? Setiap guru harus mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman, dengan terus melakukan update informasi. Tepatnya, di era yang serba digital ini, setiap guru harus mampu beradaptasi dengan cara mengubah metode pembelajaran agar sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan siswa. Apa itu era digital? era digital adalah suatu kondisi kehidupan atau zaman dimana semua kegiatan yang mendukung kehidupan sudah dipermudah dengan adanya teknologi. Bisa juga dikatakan bahwa era digital hadir untuk menggantikan beberapa teknologi masa lalu agar jadi lebih praktis dan modern. Bagaimana peran guru di era digital? 1. Mengajarkan Konsep Abstrak 2. Mengajak Siswa Belajar Aktif 3. Menjadikan Pintar Sekaligus Kreatif 4. Menguasai Bahasa dan Budaya Visited 4,990 times, 1 visits today Oleh Nurul Yaqin, Guru Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu SMPIT Annur, Cikarang Timur, multidimensional yang dihadapi dunia ini semakin pelik manakala arus globalisasi kontemporer telah menjalar ke berbagai lini kehidupan. Dunia mengalami fenomena globalisasi yang cepat penetrasinya dan luas Giddens 1990 menyebutnya sebagai globalisasi dini, yaitu intensifikasi relasi-relasi sosial dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan sedemikian rupa, sehingga peristiwa-peristiwa lokal dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi jauh di seberang dan begitu pun di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi membawa distansiasi ruang waktu sekaligus pemadatan ruang waktu yang merobohkan batas-batas ruang dan waktu konvesional. Fenomena ini telah merestrukturisasi pola dan cara pandang kehidupan manusia yang memunculkan efek mendua. Efek inilah yang dikenal dengan istilah global paradox positif dan negatif, peluang dan menyebabkan negara-negara yang ada di dunia berevolusi menjadi desa global, dan warga dunia menjelma menjadi warga global. Indikasinya, bayi yang lahir pada abad XXI berubah menjadi “manusia-manusia digital”, yaitu manusia masa kini yang sangat akrab dengan dunia teknologi, informasi, dan konteks pendidikan, kemajuan iptek membutuhkan perhatian serius karena dunia pendidikan adalah sarana paling efektif dalam penyebaran iptek. Sistem pembelajaran konvesional perlahan mulai tertinggal jauh di ini proses pembelajaran tidak hanya berkutat di dalam kelas, tetapi juga menggunakan media digital, online, dan telekonferensi. Namun, pendidikan juga harus waspada agar mampu membendung efek negatif dari perkembangan hal tersebut, guru sebagai aktor utama pendidikan tidak boleh tutup mata. Guru hari ini harus lebih pintar dan cerdas dibandingkan murid-murdinya dalam menyikapi perkembangan teknologi yang semakin sampai seorang guru memiliki penyakit TBC tidak bisa computer, mengingat anak didik lebih akrab dengan dunia teknologi dan komunikasi. Keterbelakangan guru dalam dunia iptek akan menjadi bumerang yang akan memengaruhi profesionalitas milenialYang jadi permasalahan kolektif dunia pendidikan kita saat ini adalah guru abad XX yang lahir tahun di bawah 2000 masih gagap teknologi. Sedangkan murid yang dihadapi adalah manusia abad XXI yang tentu beda dalam asupan gizi keilmuan banyak anak didik kita saat ini lebih cerdas dalam dunia teknologi daripada gurunya. Kesenjangan semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja agar tidak berakibat fatal dalam proses sejak zaman Orde Baru sampai sekarang bukan lagi seperti yang dilukiskan oleh Earl V Pullias dan James D Young dalam bukunya A Teacher is Many Things, yaitu sebagai sosok makhluk serbabisa sekaligus memiliki kewibawaan yang tinggi di hadapan murid-muridnya ataupun sosok guru yang sekarang ini lebih tepat sebagai sosok mimikri, yang harus pandai-pandai menyesuaikan diri di mana dan dalam situasi apa mereka berada. Hal itu sebagai akibat dari situasi ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang ada sangat media komunikasi yang tidak hanya berbasis pesan audio menjadi candu bagi anak-anak muda sekarang. Terlebih lagi sebuah aplikasi komunikasi yang dilengkapi dengan media audio sedikit dari anak didik bangsa ini memperlihatkan gambar amoral, yang menurut mereka merupakan sesuatu yang trendi. Ironisnya, guru tidak mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya karena tidak memiliki aplikasi adalah sebuah problema yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lewat salah satu aplikasi yang paling digandrungi, anak remaja hari ini berlomba-lomba mempertontonkan foto-foto mereka yang paling aplikasi komunikasi tanpa batas akan membawa anak pada dunia yang lebih bebas dan liar. Di sana, mereka akan berteman dengan para tokoh idolanya semisal artis Korea, artis Hollywood, dan lain-lain. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai kiblat dalam semua akan menjadi tantangan terbesar bagi para guru. Canggihnya teknologi akan menyebabkan komunikasi antarpeserta didik dapat terjalin dengan obrolan dunia maya antaranak didik tanpa ada campur orang tua dan guru, maka sangat riskan mereka akan bertindak sesuai dengan nafsu jiwa muda. Nafsu jiwa muda cenderung tanpa pertimbangan akal yang tentunya bisa mengakibatkan dampak negatif bagi diri Ibrahim 2012 menuturkan, “Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya, sehingga menganggap apa yang diperolehnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahuan terlengkap dan final".Melek teknologiKualitas guru yang hampa akan teknologi tidak akan mampu menanamkan “daya kritis” kepada murid untuk menjadi manusia revolusioner. Sehingga mereka terhambat untuk menggali potensi yang gaptek gagap teknologi akan menurunkan derajat kredibilitasnya di hadapan para muridnya sehingga murid cenderung bersikap underestimate, seolah-olah guru adalah orang dungu di tengah dunia fenomena yang sering ada dan terjadi di sekeliling kita. Guru boleh produk tahun 90-an, tapi kapasitas keilmuannya tidak boleh kalah dengan persaingan mana pun dan kapan pun seorang guru harus lebih pintar daripada muridnya, tidak hanya dalam konteks pedagogik akan tetapi juga harus update dalam segala bidang. Guru tempat berpijak murid, jika guru tidak ada ghirah untuk meningkatkan potensi dirinya, sudah pasti guru akan kalah dari tingkat keilmuan muridnya, mengingat sumber belajar saat ini sudah betebaran di dunia maya setiap hal tersebut, guru tidak boleh gagap teknologi gaptek dan harus selalu berupaya memotivasi dirinya dalam dunia teknologi. Guru tidak boleh malas mengakses informasi dan teknologi jika tidak mau perlu belajar serius agar mampu mengoperasikan perangkat teknologi informasi di hadapan para muridnya. Guru profesional akan lebih mudah memahami kebutuhan siswa di tengah semakin kompletnya ketersediaan sarana dan siswa memiliki akun di media sosial, tak ada salahnya guru juga memilikinya, bahkan disarankan untuk saling berteman. Selain sebagai wadah untuk belajar, media komunikasi, dan penyebaran informasi, keberadaan guru juga sebagai pengawas aktivitas anak didik ketika berselancar di dunia maya. Komunikasi siswa saat ini cenderung alay dan berupa simbol-simbol yang sulit dijangkau oleh orang hal ini, guru harus mengetahui bahasa yang sering digunakan oleh mereka. Terkadang dalam bahasa yang mereka gunakan terselip unsur-unsur yang menjerumus kepada tindakan-tindakan yang tak bullying perisakan, diskriminasi, narkoba, bahkan seksual. Ketika guru sudah masuk dalam dunia muridnya, maka akan lebih mudah bagi guru mengantisipasi hal-hal negatif yang setiap saat selalu menghantui. The impact of globalization can be seen by the existence of technology and fast-use information which the majority have been enjoyed by every level of society. The existence of technology and information has now begun to be used to support the process of providing education. In order for these activities to be carried out optimally, it needs to be supported by the professional skills of each educational actor in the school. The purpose of this study is to determine the role and challenges of educators in the digital era. The method used in this article is a qualitative approach in the form of a librarian study. This article discusses the role of educators in the digital era. The way educators teach has changed due to technology in the digital age. The role of the teacher has also expanded beyond being a teacher who is also a facilitator of learning that encourages learners to develop skills in critical thinking, creative thinking, and working in teams. This article also discusses the difficulties or challenges experienced by educators in facing the digital era. And also discussed the efforts that will be made to reduce the difficulties or challenges of educators in learning in the digital Digital Era, Roles and Challenges, EducatorsAbstrak Dampak globalisasi dapat diketahui dengan adanya teknologi dan informasi cepat guna yang mayoritas sudah dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat. Keberadaan teknologi dan informasi kini sudah mulai digunakan untuk menunjang proses penyelenggaraan pendidikan. Agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal perlu didukung oleh keterampilan profesional dari setiap pelaku pendidikan yang ada di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dan juga tantangan para tenaga pendidik di era digital. Metode yang dipakai dalam artikel ini adalah pendekatan kualitatif berupa studi kepustakaaan. Artikel ini membahas peran tenaga pendidik di era digital. Cara tenaga pendidik dalam mengajar telah berubah akibat teknologi di era digital. Peran guru juga telah berkembang melampaui seorang guru yakni juga menjadi fasilitator pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan dalam berpikir kritis, berpikir kreatif, dan bekerja dalam tim. Artikel ini juga membahas tentang kesulitan-kesulitan atau tantangan yang dialami para tenaga pendidik dalam menghadapi era digital. Serta juga membahas tentang upaya upaya yang akan dilakukan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan atau tantangan para tenaga pendidik dalam pembelajaran di era kunci Era Digital, Peran dan Tantangan, Tenaga Pendidik Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Proceedings Series of Educational Studies Prosiding Seminar Nasional “Peran Manajemen Pendidikan Untuk Menyiapkan Sekolah Unggul Era Learning Society Departemen Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike International License. Peran dan Tantangan Tenaga Pendidik dalam Pembelajaran di Era Digital Tri Bintang Indiarto Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 5 Malang, Jawa Timur, Indonesia * Abstract The impact of globalization can be seen by the existence of technology and fast-use information which the majority have been enjoyed by every level of society. The existence of technology and information has now begun to be used to support the process of providing education. In order for these activities to be carried out optimally, it needs to be supported by the professional skills of each educational actor in the school. The purpose of this study is to determine the role and challenges of educators in the digital era. The method used in this article is a qualitative approach in the form of a librarian study. This article discusses the role of educators in the digital era. The way educators teach has changed due to technology in the digital age. The role of the teacher has also expanded beyond being a teacher who is also a facilitator of learning that encourages learners to develop skills in critical thinking, creative thinking, and working in teams. This article also discusses the difficulties or challenges experienced by educators in facing the digital era. And also discussed the efforts that will be made to reduce the difficulties or challenges of educators in learning in the digital era. Keywords Digital Era, Roles and Challenges, Educators Abstrak Dampak globalisasi dapat diketahui dengan adanya teknologi dan informasi cepat guna yang mayoritas sudah dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat. Keberadaan teknologi dan informasi kini sudah mulai digunakan untuk menunjang proses penyelenggaraan pendidikan. Agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal perlu didukung oleh keterampilan profesional dari setiap pelaku pendidikan yang ada di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dan juga tantangan para tenaga pendidik di era digital. Metode yang dipakai dalam artikel ini adalah pendekatan kualitatif berupa studi kepustakaaan. Artikel ini membahas peran tenaga pendidik di era digital. Cara tenaga pendidik dalam mengajar telah berubah akibat teknologi di era digital. Peran guru juga telah berkembang melampaui seorang guru yakni juga menjadi fasilitator pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan dalam berpikir kritis, berpikir kreatif, dan bekerja dalam tim. Artikel ini juga membahas tentang kesulitan-kesulitan atau tantangan yang dialami para tenaga pendidik dalam menghadapi era digital. Serta juga membahas tentang upaya upaya yang akan dilakukan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan atau tantangan para tenaga pendidik dalam pembelajaran di era digital. Kata kunci Era Digital, Peran dan Tantangan, Tenaga Pendidik Teknologi informasi dan komunikasi telah mengalami kemajuan seiring dengan perkembangan zaman, akibatnya interaksi dan penyampaian informasi dapat berlangsung dengan sangat cepat. Seiring dengan perkembangan zaman yang kian cepat membuat persaingan terjadi diantara negara yang mengakibatkan sebuah negara harus meningkatkan Proceedings Series of Educational Studies 414 sumber daya manusia yang mereka miliki, salah satu caranya yaitu dengan memberikan pendidikan yang berkuailtas. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam pembangunan suatu bangsa. Melalui pendidikan, individu dapat memperoleh pengetahuan dn kemampuan yang diperlukan menghadapi tantangan di masa depan. Pendidikan memainkan peran penting dalam pertumbuhan manusia dan masyarakat. Tuntutan akan pendidikan berkualitas tinggi meningkat seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi. Di era digital, pendidik memainkan peran penting dalam memastikan keberhasilan pendidikan berkualitas tinggi. Serta dalam pembelajarannya pendidik memainkan peran yang tidak kalah penting juga, yakni memberikan metode pembelajaran yang beragam dan tidak monoton agar peserta didik tidak cepat bosan dalam menerima materi. Untuk itu, keberhasilan dalam mencapai pendidikan berkualitas sangat bergantung pada keterampilan dan profesionalisme para pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan adanya tenaga SDM yang terampil dan profesional di bidangnya, sangat mungkin tercipta pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang berkualitas ini akan tercermin dalam pribadi peserta didik yang berkualitas, dengan perubahan sikap, perilaku, tutur kata, dan tindakan yang positif, beradab, dan berbudaya. Peran guru sebagai perancang masa depan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari pembahasan pendidikan. Bangsa yang maju tidak akan bisa eksis tanpa sistem pendidikan yang berkualitas. Kunci suatu bangsa adalah pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas Mansir, 2020. Guru di Indonesia harus menunjukkan profesionalisme dan karakter positif yang kuat. Selain itu, mereka juga memiliki intelektual yang mumpuni. Ketika pemerintah memutuskan bahwa seorang guru harus memiliki sertifikasi sebagai bukti kualifikasi dan kepatuhannya terhadap undang-undang, hal ini sejalan dengan hal tersebut. profesional terdidik yang siap untuk mengajar. Cara guru dalam mengajar telah berubah akibat teknologi di era digital. Selain mengajar, pendidik memfasilitasi pembelajaran dengan mendorong siswa untuk memperoleh keterampilan kritis, kreatif, dan kolaboratif. Namun, kesulitannya juga menjadi lebih sulit. Guru harus mampu mengelola informasi yang dibutuhkan untuk pembelajaran dan menggabungkan teknologi ke dalam kelas. Dalam pembelajaran di era digital, para tenaga pendidik harus mampu memasukkan unsur teknologi kedalam proses pembelajaran meeka. Agar proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Selain itu, manfaatnya bagi para peserta didik adalah peserta didik menjadi terbiasa dengan teknologi sedari muda, jika para tenaga pendidik sudah memasukan unsur teknologi kedalam proses pembelajaran. Selain memiliki manfaat terhadap peserta didik, terdapat juga manfaat jika memasukan unsur teknologi kedalam proses pembelajaran terhadap tenaga pendidik yakni tenga pendidik akan melek terhadap teknologi, tenaga pendidik juga akan terus belajar mengenai teknologi dan juga tenaga pendidik akan mempunyai waktu yang lebih efektif dan efisien dalam menyusun materi pembelajaran. Tenaga pendidik juga perlu mampu mengembangkan keterampilan digital yang memadai, baik dalam hal literasi digital, literasi media, hingga keterampilan teknologi yang lebih canggih. Literasi digital menjadi keterampilan dasar yang sangat penting untuk dikuasai dalam era digital ini. Hal ini mencakup kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan Proceedings Series of Educational Studies 415 menggunakan informasi secara efektif dari berbagai sumber digital. Selain itu, keterampilan teknologi yang lebih canggih seperti coding, design thinking, dan keterampilan analisis data juga menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam era digital ini. Pembelajaran di era digital sudah tidak terbatas dengan kelas dan juga buku buku fisik. Dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan cepat dan tidak terbendung. Guru dalam era digital harus menerapkan konsep yang memperlakukan siswa dapat belajar dimana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dari sumber mana saja. Akan tetapi tenaga pendidik juag harus mengecek ulang sumber sumber yang menjadi sumber belajar peserta didik. Untuk memenuhi tuntutan pembelajaran di era digital, seorang pendidik harus menguasai teknologi dengan baik. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan kemampuan teknis dalam menggunakan perangkat dan aplikasi digital, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendidik yang paham teknologi juga dapat menggunakan data yang dihasilkan teknologi untuk melacak kemajuan siswa dan menyesuaikan instruksi untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa. Seorang pendidik dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efisien dan efektif untuk setiap siswa dengan memanfaatkan data yang sesuai. Namun, penting untuk diingat bahwa menjadi ahli dalam teknologi bukanlah tujuan akhir seorang pendidik. Teknologi hanyalah alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, seorang pendidik juga harus terus membina kemampuan dan kemampuan yang diharapkan menjadi pendidik yang berkualitas, misalnya kemampuan menyampaikan dengan baik, mendorong peserta didik, dan membina program pendidikan yang sesuai. Artikel ini dalam metodenya menggunakan metode penelitian kualitatif berupa studi pustaka. Studi Pustaka dilakukan dengan menggunakan literatur review. Literatur review merupakan teknik penelitian yang dilakukan dengan cara menelaah dan mempelajari berbagai kajian kepustakaan yang diperlukan dalam penelitian. Penelitian dilakukan dengan cara mencari referensi teori kepustakaan yang relefan dengan topik dan permasalahan. Literatur review dilakukan dengan mengkaji berbagai sumber berupa jurnal, artikel, buku, dan internet. Referensi teori kepustakaan yang diperoleh dari penelitian studi literatur tersebut dijadikan bahan utama pembahasan dalam penelitian. Hasil Peran guru dalam pendidikan dan pembelajaran adalah guru akan menjadi teladan bagi siswa, guru juga menjadi fasilitator, inspirator, motivator, imajinasi, kreativitas dan bekerja sama. Selain terdapat peran, tenaga pendidik juga mempunyai tantangan dalam pembelajaran di era digital, menurut Syamsuar dan Reflianto 2018 yaitu, anak dididik dan dilatih dengan cara bekerja sambil belajar, pelajaran tidak hanya diberikan pada jam pelajaran saja, tetapi Proceedings Series of Educational Studies 416 juga dalam setiap kesempatan di luar jam sekolah. Selain itu, terdapat tantangan atau kesulitan yang dialami oleh tenaga pendidik di era digital bahwa guru sampai sekarang masih banyak yang memakai produk 80-an, sementara peserta didiknya sudah memakai produk kontemporer. Yang mengakibatkan banyak ketidakcocokan antara guru dan murid. Selainitu, terdapat upaya lain, yakni Pengembangan dan pelatihan keterampilan digital, Teknologi dan infrastruktur yang memadai, Pengembangan kurikulum yang responsif, Terbentuknya komunitas pembelajar, Meningkatkan literasi media dan digital, Pendekatan baru untuk pendidikan sedang dikembangkan. Pembahasan Peran Tenaga pendidik Guru akan menjadi teladan bagi siswa Selain mengajar dan memberikan pengetahuan kepada siswa, seorang guru juga berperan sebagai teladan bagi siswa dan memberikan contoh perilaku yang baik. Seorang guru harus mampu menginspirasi siswa untuk bertindak secara positif dan menjadi teladan yang positif. Seorang guru dapat berperan sebagai model bagi siswanya dalam beberapa cara, antara lain a. Menunjukkan sikap positif Dalam keadaan apapun, seorang guru harus selalu menjaga sikap positif. Siswa dapat termotivasi dan terinspirasi untuk berpikir positif tentang kehidupan mereka dengan sikap ceria guru. b. Komunikasi yang baik Seorang guru harus mampu berkomunikasi secara efektif dan menginstruksikan siswa dalam melakukannya. Agar siswa merasa dihargai dan diakui, guru juga harus selalu mendengarkan dan memahami pendapat mereka. c. Bersikap profesional setiap saat Seorang guru harus bertindak dan berbicara dengan profesionalisme setiap saat, termasuk dalam berpakaian. Siswa dapat belajar untuk menghargai pekerjaan mereka sebagai pendidik dan mengadopsi sikap profesional melalui ini. d. menunjukkan pengabdian Ketika mengajar dan mengarahkan siswa, seorang guru harus menunjukkan dedikasi dan ketekunan. Siswa dapat belajar dari guru yang berdedikasi betapa pentingnya kerja keras dan ketekunan untuk sukses. Guru menjadi Fasilitator Sebagai fasilitator, seorang guru harus dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan belajarnya. Siswa harus dapat belajar dan tumbuh dalam lingkungan yang nyaman dan aman bagi guru untuk menjadi efektif. Selain itu, seorang guru yang baik harus mampu mengenali potensi siswa serta kebutuhan mereka dan memberikan bantuan yang diperlukan. Proceedings Series of Educational Studies 417 Guru menjadi Motivator Sebagai motivator, seorang guru harus mampu menginspirasi siswa untuk belajar dan berhasil. Siswa harus termotivasi dan didukung oleh guru untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan mereka. Guru yang baik juga harus mampu mendorong rasa percaya diri siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Guru menjadi Imajinasi Seorang pendidik sebagai pemikir kreatif harus dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan pikiran kreatifnya dan mengembangkan daya ciptanya. Pendidik harus memiliki kemampuan untuk menggerakkan dan menyegarkan pikiran siswa untuk membuat sesuatu yang baru dan inovatif. Guru menjadi Kreativitas Seorang pendidik yang kreatif harus mampu menumbuhkan kreativitas siswa dan memberi mereka kesempatan untuk menyelidiki dan mengkomunikasikan ide-ide mereka. Kegiatan dan proyek yang mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan mengembangkan keterampilan kreatif mereka harus dirancang oleh guru. Guru akan Bekerja sama Sebagai anggota tim, seorang guru harus dapat berkolaborasi secara erat dengan guru lain dan staf sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang efisien dan efektif. Instruktur harus dapat bekerja sama dengan mitranya untuk membangun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan mendorong pencapaian siswa. Untuk menjalankan peran-peran diatas seorang tenaga pendidik harus memiliki beberapa kompetensi atau krietia yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik pada era digital, menurut Nuryani dan Handayani 2020 kriteria atau kompetensinya yaitu a. Critical Thinking and Problem solving keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah Yaitu kemampuan untuk memahami masalah yang kompleks, menghubungkan informasi yang berbeda, dan pada akhirnya menghasilkan berbagai perspektif dan solusi untuk suatu masalah. Kapasitas untuk bernalar, memahami, dan membuat keputusan sulit adalah apa yang dimaksud dengan kompetensi ini; memahami bagaimana sistem, kompilasi, pengungkapan, pemecahan masalah, dan analisis terhubung. Hal ini sangat penting bagi siswa untuk belajar di era digital. b. Communication and collaborative skill keterampilan komunikasi dan kolaborasi Adalah keterampilan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang harus digunakan guru untuk membangun keterampilan komunikasi seperti kolaborasi dan kompetensi. Proceedings Series of Educational Studies 418 c. Creativity and innovative skill kterampilan berpikir kreatif dan inovasi Tentunya agar seorang guru dapat menularkannya kepada anak didiknya terlebih dahulu harus kreatif dan inovatif. d. Information and communication technology literacy Literasi teknologi informasi dan kominikasi Di era digital, guru harus melek teknologi informasi dan komunikasi TIK agar tidak tertinggal dari siswanya. Agar pendidik dapat menghasilkan peserta didik yang siap bersaing maka perlu menguasai literasi teknologi informasi dan komunikasi. e. Contextual learning skill Pembelajaran ini yang sangat sesuai diterapkan oleh guru, ketika guru sudah menguasai TIK, maka pembelajaran kontekstual lebih mudah diterapkan. Saat ini TIK salah satu konsep kontekstual yang harus diketahui oleh guru, materi pembelajaran berbasis TIK sehingga guru sangat tidak siap jika tidak memiliki literasi TIK. Materi yang bersifat abstrak mampu disajikan lebih riil dan kontekstual menggunakan TIK. f. Information and media literacy literasi informasi dan media Banyak media informasi bersifat sosial yang digeluti peserta didik. Media sosial seolah menjadi. Untuk melihat apakah seorang guru atau tenaga pendidik mempunyai kriteria atau kompetensi diatas maka diadakan seleksi. Dalam penyeleksian tenaga pendidik segala yang berkaitan dengan si calon guru atau tenaga pendidik harus dihilangkan, seperti hubungan darah, hubungan pertemanan, hubungan asmara. Karena jika tidak dihilangkan akan membuat proses penyeleksian tidak efektif dan menyebabkan kriteria atau kompetensi diatas tidak terlihat oleh penyeleksi. Tantangan tenaga pendidik a. Anak dididik dan dilatih dengan cara bekerja sambil belajar Metode "bekerja sambil belajar" atau "learning by doing" merujuk pada pendekatan belajar di mana anak didik diberikan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman praktis di tempat kerja atau dalam situasi yang relevan dengan pekerjaan atau karir yang diinginkannya. Pendekatan ini biasanya dilakukan dalam bentuk magang atau program pelatihan yang menggabungkan pembelajaran di kelas dengan pelatihan praktis di tempat kerja. pendekatan bekerja sambil belajar memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah bahwa mungkin sulit bagi anak didik untuk menyeimbangkan antara tugas kerja dan tugas belajar mereka. Selain itu, program pelatihan bekerja sambil belajar mungkin tidak tersedia di semua industri atau bidang pekerjaan, dan biayanya mungkin lebih tinggi daripada program pelatihan tradisional. b. Pelajaran tidak hanya diberikan pada jam pelajaran saja, tetapi juga dalam setiap kesempatan di luar jam sekolah. Mengacu pada gagasan bahwa pembelajaran tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu, melainkan dapat terjadi di setiap saat dan di mana saja. Dalam rangka untuk Proceedings Series of Educational Studies 419 memaksimalkan pembelajaran di luar jam pelajaran, peran guru, sangat penting. guru dapat membantu siswa menemukan kesempatan pembelajaran yang berharga dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk membantu mereka memperoleh pengalaman yang bermanfaat. Sementara itu guru tidak selalu bersama peserta didik selama pembelajaran diluar jam pelajaran, itulah yang menyebabkan ia berada di tantangan tenaga pendidik. c. Guru sampai sekarang masih banyak yang memakai produk 80-an, sementara peserta didiknya sudah memakai produk kontemporer. Yang mengakibatkan banyak ketidakcocokan antara guru dan murid. Fenomena di mana guru masih menggunakan produk atau teknologi dari era 80-an sedangkan peserta didiknya sudah beralih ke produk kontemporer adalah masalah yang umum terjadi. Hal ini dapat menyebabkan ketidakcocokan antara guru dan murid dalam hal penggunaan teknologi dan dapat menghambat proses pembelajaran. Beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab dari fenomena ini adalah kurangnya aksesibilitas dan dukungan untuk penggunaan teknologi baru di kalangan guru, ketidakpahaman mengenai manfaat dari teknologi terbaru, dan kurangnya pelatihan atau pendidikan tentang teknologi terbaru untuk guru. Kurangnya aksesibilitas dan dukungan untuk penggunaan teknologi baru dapat terjadi karena biaya untuk membeli atau mengakses teknologi baru masih terlalu mahal atau karena sekolah belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung penggunaan teknologi terbaru. Ketidakpahaman mengenai manfaat dari teknologi terbaru juga dapat menjadi masalah. Beberapa guru mungkin merasa bahwa teknologi lama masih cukup efektif dalam membantu proses pembelajaran dan mungkin tidak menyadari manfaat dari teknologi terbaru untuk membantu siswa mencapai hasil yang lebih baik. Kurangnya pelatihan atau pendidikan tentang teknologi terbaru untuk guru juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Beberapa guru mungkin tidak memiliki kesempatan untuk belajar tentang teknologi terbaru atau mungkin tidak merasa nyaman menggunakan teknologi baru karena kurangnya pelatihan dan dukungan. Selain tantangan diatas, ada beberapa tantangan guru atau tenaga pendidik dalam pembelajaran di era digital, yaitu a. Tantangan teknis Tenaga pendidik harus memahami dan menguasai teknologi yang digunakan dalam pembelajaran, seperti platform pembelajaran online, aplikasi pembelajaran, dan perangkat keras yang diperlukan. Selain itu, mereka juga harus mampu mengatasi masalah teknis yang muncul selama proses pembelajaran. b. Tantangan kurikulum Perubahan teknologi yang terus menerus dapat membuat kurikulum yang telah ditentukan menjadi tidak relevan atau kurang efektif. Tenaga pendidik harus dapat memperbarui kurikulum mereka secara teratur untuk memastikan bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan perkembangan teknologi terbaru dan memenuhi kebutuhan siswa. c. Tantangan pengajaran Proceedings Series of Educational Studies 420 Tenaga pendidik harus menyesuaikan metode pengajaran mereka dengan teknologi yang digunakan, dan harus dapat menyediakan pengalaman belajar yang menarik dan interaktif untuk siswa. Mereka juga harus dapat memfasilitasi kolaborasi dan interaksi antara siswa dan menilai keterlibatan siswa dalam pembelajaran. d. Tantangan penilaian Dalam era digital, penilaian siswa dapat dilakukan secara online dengan menggunakan perangkat lunak khusus. Namun, tenaga pendidik harus memastikan bahwa penilaian tersebut adil dan akurat dan bahwa nilai yang diberikan mencerminkan kemampuan dan prestasi siswa. e. Tantangan keterbatasan akses Meskipun teknologi dapat meningkatkan akses ke sumber daya pembelajaran yang lebih banyak, namun tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap teknologi yang diperlukan. Tenaga pendidik harus dapat memastikan bahwa siswa yang memiliki keterbatasan akses tetap dapat mengakses materi pembelajaran dan memiliki pengalaman pembelajaran yang sebanding dengan siswa lainnya Upaya Ada beberapa upaya yang dilakukan tenaga pendidik dalam mengatasi tantangan pembelajaran di era digital. Adapun menurut Diplan dalam Fatah dan Amirudin 2022 adalah a. Guru tidak boleh gagap teknologi, komputer dan gawai harus menjadi keseharian bagi guru. Dalam era digital saat ini, guru tidak boleh gagap teknologi karena teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Sebagai pengajar, guru harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkannya sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Komputer dan gadget gawai adalah alat teknologi yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dengan memanfaatkan komputer dan gawai, guru dapat memperkaya materi pelajaran dengan sumber daya digital yang lebih bervariasi dan interaktif, termasuk presentasi multimedia, video, animasi, aplikasi pembelajaran, dan platform pembelajaran online. Selain itu, penggunaan komputer dan gawai juga dapat membantu guru dalam mengelola tugas administratif seperti membuat jadwal, mengevaluasi kinerja siswa, dan mengirim laporan ke orang tua. Dengan demikian, guru dapat mengoptimalkan waktu dan fokus pada tugas-tugas yang lebih penting seperti mengajar dan membimbing siswa. Namun, untuk dapat memanfaatkan teknologi dengan baik, guru harus terampil dan terbiasa menggunakan komputer dan gawai dalam kegiatan sehari-hari. Guru harus menguasai teknologi dan memahami cara kerjanya agar dapat menggunakannya secara efektif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan keterampilan dan kemampuan dalam penggunaan teknologi dan terus memperbarui pengetahuannya tentang teknologi terbaru. Proceedings Series of Educational Studies 421 Keterampilan teknologi yang dimiliki oleh guru juga akan membantu siswa dalam belajar dan mempersiapkan mereka untuk hidup di era digital yang semakin maju. Siswa dapat belajar tentang teknologi dan memahami cara menggunakannya dengan benar dan efektif melalui contoh dan bimbingan dari guru mereka. b. Memahami kecenderungan yang terjadi terkait perubahan teknologi. adalah hal yang sangat penting dalam memastikan keberhasilan pembelajaran. Era digital telah membawa perubahan besar dalam cara kita belajar dan mengajar, dan tenaga pendidik harus dapat mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkannya dengan baik untuk mengatasi tantangan pembelajaran yang muncul. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh tenaga pendidik dalam era digital adalah bagaimana mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai alat dan aplikasi teknologi seperti e-learning, virtual classroom, dan media sosial untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif. Selain itu, tenaga pendidik juga harus mampu mengatasi masalah seperti kurangnya akses ke teknologi dan kecenderungan siswa untuk terlalu bergantung pada teknologi. Mereka harus memastikan bahwa teknologi digunakan secara efektif dan efisien, dan memberikan panduan dan dukungan yang tepat kepada siswa dalam penggunaan teknologi. Tenaga pendidik juga harus mempertimbangkan cara-cara baru untuk mengukur kemajuan siswa dan memberikan umpan balik yang efektif dalam era digital. Mereka harus memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan metode evaluasi yang lebih interaktif dan partisipatif, seperti penggunaan game atau aplikasi mobile untuk mengukur kemajuan siswa dan memberikan umpan balik yang tepat. Selain itu, tenaga pendidik juga harus memastikan bahwa mereka terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam bidang teknologi dan pendidikan. Mereka harus terus mempelajari teknologi baru dan mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan, serta menghadiri pelatihan dan workshop yang relevan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Selain upaya yang dapat dilakukan diatas, ada beberapa upaya lain yang dapat dilakukan tenaga pendidik dalam menghadapi tantangan dalam pembelajaran di era digital, yaitu a. Pengembangan dan pelatihan keterampilan digital Untuk menggabungkan teknologi dengan benar ke dalam proses pembelajaran, pendidik memerlukan pelatihan dan pengembangan keterampilan digital yang memadai. Ini dapat dicapai dengan memberikan instruksi reguler tentang kemajuan teknologi terbaru dan penerapannya pada pendidikan. Proceedings Series of Educational Studies 422 b. Teknologi dan infrastruktur yang memadai Untuk mendukung pembelajaran di era digital, pemerintah dan lembaga pendidikan harus menyediakan infrastruktur dan teknologi yang memadai, seperti jaringan internet yang andal dan perangkat teknologi yang memadai. Ini penting untuk pembelajaran online dan integrasi teknologi yang efektif dalam pendidikan. c. Pengembangan kurikulum yang responsif Kurikulum perlu diperbarui untuk mengikuti kemajuan teknologi dan mencakup keterampilan digital yang cukup bagi siswa. Kurikulum harus direvisi secara berkala untuk memenuhi tuntutan pasar kerja dan kemajuan teknologi. d. Terbentuknya komunitas pembelajar Untuk dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, pendidik dan peserta didik harus membentuk komunitas belajar yang memadai. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan webinar, kelompok belajar online, atau forum diskusi. e. Meningkatkan literasi media dan digital Agar siswa dapat memahami dan mengatasi dampak negatif penggunaan teknologi, pendidik harus meningkatkan literasi media dan literasi digital siswanya. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan informasi tentang bahaya penggunaan teknologi yang tidak tepat dan pendidikan tentang cara menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. f. Pendekatan baru untuk pendidikan sedang dikembangkan Untuk menginspirasi siswa agar belajar dan menggunakan keterampilan digital dengan lebih baik, pendidik perlu menghadirkan pendekatan baru dan kreatif untuk mengajar. Hal ini dapat dilakukan melalui pembuatan video tutorial pembelajaran, penggunaan gamifikasi dalam pendidikan, atau aplikasi pembelajaran online. Perlindungan hukum dan upaya melawan kekerasan terhadap guru yang saat ini terjadi, melalui kehadiran negara dan organisasi profesi didalamnya sangat mendesak dilakukan. Perlindungan hukum dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan dari siswa, orang tua siswa, masyarakat, birokrasi atau pihak lain, berupa tindak kekerasan, ancaman, baik fisik maupun psikologis, perlakuan diskriminatif, intimidasi, dan perlakuan tidak adil. Negara mesti menjadi alat mediasi dari kecemasan yang dialami guru dalam interaksi sosial dan kelelahan psikologis pada hubungan antara gejala gangguan stres pascatrauma yang diakibatkannya. menjadi korban kekerasan, perilaku merusak diri sendiri, dan niat berpindah. Organisasi profesi ke depan perlu memasukan penanggulangan ancaman dan kekerasan terhadap guru sebagai salah satu fokus kerjanya. Proceedings Series of Educational Studies 423 Bogler, R., & Somech, A. 2004. Influence of teacher empowerment on teachers’ organizational commitment, professional commitment and organizational citizenship behavior in schools. Teaching and Teacher Education, 203, 277–289. Dabengwa, I. M., Young, S., & Ngulube, P. 2023. Rigour in phenomenological and phenomenography studies A scoping review of library and information science research. Library & Information Science Research, 451, 101219. Dalle, A., & Darmawati, D. 2022. The Musyawarah Guru Mata Pelajaran Forum and Its Roles in Improving the Professionalism of High School English Teachers. Indonesian Research Journal in Education IRJE, 62, Article 2. Ervasti, J., Kivimäki, M., Pentti, J., Salmi, V., Suominen, S., Vahtera, J., & Virtanen, M. 2012. Work-related violence, lifestyle, and health among special education teachers working in Finnish basic education. The Journal of School Health, 827, 336–343. Espelage, D., Anderman, E. M., Brown, V. E., Jones, A., Lane, K. L., McMahon, S. D., Reddy, L. A., & Reynolds, C. R. 2013. Understanding and preventing violence directed against teachers Recommendations for a national research, practice, and policy agenda. American Psychologist, 68, 75–87. Harahap, K. F., Naufal, A. F., & Berliansyah, M. R. 2022. Organisasi Profesi Guru Kajian Manajemen Pendidikan Islam. Cendekiawan Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman, 11, Article 1. Holt, A., & Birchall, J. 2022. Violence towards teaching/classroom assistants in mainstream UK schools Research findings and recommendations. University of Roehampton, UK. Karyadiputra, E., Pratama, S., Muin, A. A., Setiawan, A., & Rahman, F. Y. 2022. Pelatihan Video Pembelajaran Berbasis Multimedia Pada Musyawarah Guru Mata Pelajaran Prakarya MGMP Prakarya SMP Kab. Barito Kuala. ABDINE Jurnal Pengabdian Masyarakat, 21, Article 1. Komara, E. 2016. Perlindungan Profesi Guru di Indonesia. Mimbar Pendidikan, 12, Article 2. Li, Y., Ahn, J., Ko, S., Hwang, I., & Seo, Y. 2023. Impact of Teachers’ Post-Traumatic Stress Due to Violence Victimization Moderated Mediation Effect of Living a Calling. Behavioral Sciences Basel, Switzerland, 132, 139. Longobardi, C., Badenes-Ribera, L., Fabris, M. A., Martinez, A., & McMahon, S. D. 2019. Prevalence of student violence against teachers A meta-analysis. Psychology of Violence, 9, 596–610. Maeng, J. L., Malone, M., & Cornell, D. 2020. Student threats of violence against teachers Prevalence and outcomes using a threat assessment approach. Teaching and Teacher Education, 87, 102934. Masath, F. B., Scharpf, F., Dumke, L., & Hecker, T. 2023. Externalizing problems mediate the relation between teacher and peer violence and lower school performance. Child Abuse & Neglect, 135, 105982. Meier, K. J., & O’Toole Jr, L. J. 2006. Political Control versus Bureaucratic Values Reframing the Debate. Public Administration Review, 662, 177–192. Moon, B., & McCluskey, J. 2016. School-Based Victimization of Teachers in Korea Focusing on Individual and School Characteristics. Journal of Interpersonal Violence, 317, 1340–1361. Özdemir, S. M. 2012. An Investigation of Violence against Teachers in Turkey. Journal of Instructional Psychology, 391, 51–62. Pişkin, M., Atik, G., Çinkir, Ş., Öğülmüş, S., Babadoğan, C., & Çokluk, Ö. 2014. The Development and Validation of the Teacher Violence Scale. Eurasian Journal of Educational Research, 5656, Article 56. Randolph, J. 2019. A Guide to Writing the Dissertation Literature Review. Practical Assessment, Research, and Evaluation, 141. Reddy, L. A., Espelage, D., McMahon, S. D., Anderman, E. M., Lane, K. L., Brown, V. E., Reynolds, C. R., Jones, A., & Kanrich, J. 2013. Violence Against Teachers Case Studies from the APA Task Force. International Proceedings Series of Educational Studies 424 Journal of School & Educational Psychology, 14, 231–245. Shen, J. 1997. The Evolution of Violence in Schools. Educational Leadership, 552, 18–20. Terzoudi, T. 2020. Violence Against Teachers in Sweden The hidden side of School Violence. Malmö universitet/Hälsa och samhälle. Weng, C., Tu, S. W., Sim, I., & Richesson, R. 2010. Formal representation of eligibility criteria A literature review. Journal of Biomedical Informatics, 433, 451–467. Zhang, Y., Jian, J., & Yuan, Y. 2022. How supervisors’ academic capital influences business graduate students’ perceived supervisor support and creativity Evidence from the tutorial system in China. The International Journal of Management Education, 203, 100732. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this LiJeehyon AhnSein KoYoungseok SeoBased on the Affective Events Theory, Work as a Calling Theory, and related studies, this research examined the moderated mediating effects of Living a Calling and the mediating effect of social interaction anxiety and psychological burnout on the relationships between post-traumatic stress disorder symptoms consequent to violence victimization, self-destructive behaviors, and turnover intention. Data from 420 Korean elementary and secondary school teachers were analyzed using the moderated mediation model. The analysis revealed that post-traumatic stress disorder caused by violence victimization positively affected self-destructive behavior and turnover intention through the sequential mediation of social interaction anxiety and psychological burnout. Further, Living a Calling moderated the indirect effect of violence victimization; the stronger the Living-a-Calling experience, the greater the indirect effect of violence victimization on turnover intention. Additionally, when the sense of Living a Calling was low, post-traumatic stress disorder caused by violence did not significantly affect turnover intention through social interaction anxiety, but contrary to expectations, the stronger the sense of Living a Calling, the more positive the mediating effect of social interaction anxiety. Therapeutic interventions in teachers’ work environment, improvements, and suggestions for future research are scoping review investigates rigour from phenomenological and phenomenographic orientations and their appropriate fit into the discourses identified by researchers. The scoping review addresses the following central research question Do phenomenological and phenomenographic studies in published library science research share the same criteria of rigour? Library and information science LIS multi-disciplinary bibliographic databases were searched. Basic keyword searching was conducted in databases and conference proceedings were hand-searched to ensure that no articles were missed because of indexing lags. The review found that there are 18 explicitly stated phenomenological orientations and six phenomenographic orientations across LIS. Specific frameworks were applied to each method while strategies from positivism were used interchangeably. There must be a balance between generalizability, reliability, and validity, rather than an over-reliance on one of these pillars. Furthermore, LIS researchers must familiarize themselves with different phenomenological and phenomenographic orientations to apply their methodologies Statement One of the initial tasks of the school staff is to create a safe environment, which is free of negative behaviors and role models. However, there has been a concern for the violence in the schools. Most of studies in the literature has focused on aggression, violence, and bullying among students. But, teacher violence against students hasn't been studied sufficiently. In order to investigate this type of violence, a self-report instrument is needed. Purpose of the Study This study aimed to develop and validate the Teacher Violence Scale TVS, which measures different forms of violent behaviors displayed by teachers against students. Method The psychometric properties of the TVS were explored on two separate participant groups. The first one was consisted of 583 girls and boys high school students. The second one was composed of 878 girls and boys high school students. The initial phases of scale development started with defining the target construct, generating items, and receiving expert reviews. The pilot form was administered to the first participant group and the final form was validated on the second participant group. In addition, some evidence for convergent, discriminant and divergent validity of the TVS were explored. Lastly, the internal consistency for the entire scale and the sub-dimensions of the TVS and the item analysis of the TVS were investigated. Findings and Results The exploratory factor analysis EFA indicated that the TVS is a 36-item scale with 5 factors namely physical violence 11 items, sexual violence 6 items, accusing/humiliating 8 items, taunting 5 items, and oppressing 6 items. This 5-factor structure explained approximately 64 percent of the total variance. The confirmatory factor analysis CFA showed that the 5-factor model was validated [χ2584 = χ2/df = RMSEA = .04, SRMR = .06, NNFI = .99, CFI =.99]. The TVS had a strong evidence for convergent, discriminant and divergent validity. In addition, it had good internal consistency for the scores of entire scale and sub-dimensions. Conclusion and Recommendations This study presented some psychometric evidence for the TVS. The results of EFA and CFA indicated that the TVS is a 36-item scale with 5 sub-dimensions. It is expected that the TVS will fill a gap and will be a useful instrument to measure teachers’ violence towards students. Further studies should provide additional evidence for predictive and cross validity and test-retest reliability of the directed toward teachers has been understudied despite significant media and empirical investigation on school violence, such as student-to-student victimization and bullying. To date, there are relatively few published studies scattered across many countries. To address this void, the American Psychological Association, in collaboration with the National Education Association, created the first Violence Directed Against Teachers Task Force. Task Force recommendations and results from the Task Force national survey on teacher victimization are presented, together with teacher-reported case studies. The case studies are used to illustrate the range of educators, reported incidents, resulting actions by educators and schools, and stress faced by teachers. Implications for research and practice are The association between children's exposure to family violence and poor academic outcomes is well-established. Less is known about how exposure to violence in the school context, by teachers and by peers, affects academic functioning. Moreover, the role of children's mental health problems in this link has hardly been examined. Objectives We examined direct and indirect associations between children's experiences of violence by teachers and peers and children's mental health and school functioning while controlling for children's experiences of parental violence. Participants Using a multistage random sampling approach, we obtained a representative sample of 914 students % girls, Mage = years from 12 primary schools in Tanzania. Methods In structured interviews, students' experiences of violence and mental health problems were assessed. Students' academic performance and absenteeism were documented using school records. Associations were examined using structural equation modeling. Results Experiences of more teacher and peer violence were each significantly associated with higher externalizing problems teachers β = [95 %-CI peers β = [95 %-CI Higher externalizing problems were significantly associated with poorer academic performance β = − [95 %-CI − − implying significant indirect associations between students' experiences of teacher violence β = − [95 %-CI − − and peer violence β = − [95 %-CI − − and their academic performance via externalizing problems. Conclusion Exposure to violence at school may impair children's academic performance indirectly by increasing attention and behaviour problems. Further investigations in longitudinal studies and implementation of interventions to reduce violence in schools are ZhangJie JianYafen YuanThis research uses a mixed-method approach to investigate the role of academic capital in explaining supervisors' influence on business graduate students' creativity under the tutorial system in China. The first study used data from interviews with 32 Chinese business graduate students and determined the construction of academic capital based on supervisors' academic reputation and social resources. It identified two factors affecting the transfer of capital supervisors' information and communication technology ICT-integrated competence and supervisors' personal charisma. The second study explored the relationships among academic capital, perceived supervisor support, and creativity and the moderating roles of ICT-integrated competence and personal charisma. Responses to questionnaires by 888 business graduate students showed that, first, academic capital can promote perceived supervisor support, leading to students’ creativity. Second, the responses showed that academic capital more positively influences perceived supervisor support when the supervisor has high ICT-integrated competence and personal KaryadiputraSefto PratamaAgus Alim MuinFauzi Yusa RahmanRevolusi industri seiring dengan perkembangan teknologi informasi pada dunia pendidikan memungkinkan terciptanya suatu metode-metode pembelajaran baru yang lebih efektif dan efisien terutama dalam hal proses belajar mengajar di masa pandemi covid 19. Oleh sebab itu, seorang guru diharapkan mampu beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan teknologi khususnya dalam proses belajar mengajar dengan terus mengembangkan kompetensinya sesuai amanat undang-undang no. 14 tahun 2005. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu membantu para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Prakarya MGMP Prakarya tingkat SMP di Kabupaten Barito Kuala terutama dalam membuat suatu media pembelajaran yang interaktif sekaligus menarik berbasis multimedia. Adapun metode yang digunakan seperti presentasi materi pelatihan, pendampingan langsung dan praktek mandiri. Hasil dari kegiatan ini mampu meningkatkan tingkat keberdayaan masyarakat peserta sebesar 70% sehingga dapat membantu guru terutama dalam hal pembuatan media pembelajaran berbasis student aggression against teachers is a prevalent problem in schools. Student threat assessment is an emerging violence prevention practice, but its use for threats against teachers has not been investigated. This study examined use of threat assessment for a statewide sample of student threats against teachers n = 226 compared to threats against other students n = 1,228. Results indicated that threats against teachers were less prevalent than threats against peers Of threats against teachers, 30% were classified as serious by the school’s threat assessment team and were attempted. Implications for school policy and practice and teacher safety are Violence directed against teachers is a public health issue that warrants attention in research and practice. There is a growing literature on teacher-directed violence that has examined the prevalence of these incidents, yet there is considerable variation across studies. There is a need for a systematic and comprehensive review to assess the extent of the problem. Method In the current study, we identified 5,337 articles through our initial screening process, and our final analysis included 24 studies that met criteria for this meta-analysis. We examined prevalence of violence perpetrated against teachers by students and how these rates varied by reporting time frame, reporter, and type of violence. Results The prevalence of any type of teacher-reported violence victimization within ≤ 2 years ranged from 20% to 75% with a pooled prevalence of 53%. The prevalence according to a career time frame was lower, ranging from 32% to 40% with a pooled prevalence of Results also show variation in prevalence according to victimization type physical attacks or theft of personal property, with lower prevalence rates for more intrusive types of victimization. Conclusions This study represents the first meta-analysis investigating the prevalence of student violence directed against teachers. Findings provide evidence of the high rate of violence directed toward teachers, especially when accounting for both physical and nonphysical forms of violence. Teacher victimization appears to be an international problem, suggesting that the discourse by policymakers and practitioners should be framed within an international context while also considering local nuances. Soner Mehmet ÖzdemirThis study seeks to investigate violence against teachers. A total of 902 teachers working at the elementary schools and at secondary schools located in the center of Kırıkkale, Turkey were enrolled in the study. Data were gathered by an instrument designed by the researcher and aiming to measure violence against teachers. Analyses included descriptive statistics and the Chi-Square Test of Independence. The results of the study revealed that teachers often experienced emotional followed by verbal physical and sexual violence. The results also indicated that male teachers were exposed to physical violence while female teachers were mostly facing verbal and emotional violence. Besides, it has been found that secondary school teachers were experienced violence acts more than elementary school teachers do. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Alhamdulillah, kita masih diberikan kesehatan dan masih bisa berkarya melalui tulisan dikompasiana dihari ke-15 iniSahabat Kompasianer,Menjadi seorang guru diera kekinian atau era modern atau era digital seperti sekarang ini sangat berbeda dengan jaman dahulu. Jaman dahulu guru merupakan satu satunya sumber belajar, sumber informasi dan sumber pengetahuan bagi peserta didik. Apa yang disampaikan oleh bapak ibu guru itulah yang menjadi acuan, pedoman dan direkam oleh peserta didik. Pada jaman dahulu pendekatan pembelajaran lebih kepada pendekatan Pembelajaran Teacher Center, maka peran guru begitu dominan didalam proses belajar mengajar. Guru menjadi tokoh sentral didalam proses pembelajaran Di era saat ini, dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang, turut mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Pendekatan Pembelajaran telah berubah dari teacher center menjadi Student Center. Peserta didik dituntut berperan aktif didalam proses pembelajaran. Peserta didik dapat memperoleh sumber belajar dari mana saja dan memperkaya literasinya dari berbagai sumber belajar seperti buku ajar, buku elektronik, internet, blog/portal digital. Guru tidak lagi menjadi satu satunya sumber belajar bagi peserta didik. Guru diharapkan menjadi fasilitator dan motivator didalam proses pembelajaran. Selain itu, peserta didik yang kita hadapi adalah generasi tahun 2000 milenial mereka sudah "akrab" dengan teknologi, mereka mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan perkembangan, kecanggihan dan perubahan diatas tentu menjadi tantangan bagi seorang guru. Lalu bagaimana guru seharusnya bersikap menghadapi situasi seperti saat ini? Menurut penulis, agar eksistensi seorang guru selalu ada, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang guruGuru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman dan teknologi kekinian, guru tidak boleh ketinggalan jaman jadul, sebagai contoh guru terbiasa dengan penggunaan komputer, laptop, infokus, Google meeting, zoom meeting, aplikasi google form dan lainnya. Selain itu guru harus mampu beradaptasi dengan psikologi dan gaya bergaul anak kekinian, sehingga guru mampu "masuk" dan diterima dalam dunia mereka peserta didikGuru harus memiliki inovasi agar peserta didik merasa "bosan" dengan pembelajaran guru. Dengan inovasi yang tepat peserta didik akan mendapatkan tempat dan ruang yang sesuai dengan perkembangan peserta didikGuru harus mampu update dan up grade. Guru harus mampu mengikuti perkembangan jaman dan teknologi yang terus berkembang. Guru selalu memperbaharui informasi update sehingga terus berkembang. Guru juga harus memiliki kemauan untuk terus meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti diklat-diklat, melakukan upskilling, melakukan berbagai kegiatan pengembangan diri agar, ilmu pengetahuan yang disampaikan dan ditransfer ke peserta didik merupakan yang terbaru dan sesuai dengan kondisi saat guru-guru di Indonesia, termasuk penulis mampu menjawab tantangan jaman, menjadi sosok guru modern, yang selalu menjadi idola bagi peserta didik. Semoga bermanfaatDocJaysehat selalu Lihat Pendidikan Selengkapnya KEBERHASILAN pendidikan siswa tidak lepas dari kemampuan guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi dan pesatnya era digital menuntut kompetensi guru selalu update menjawab tantangan perkembangan teknologi. Hal itu sesuai dengan amanat UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Tantangan guru dalam pembelajaran era digital membutuhkan orientasi baru dalam pendidikan. Pendidikan yang menekankan pada kreativitas, inisiatif, dan inovatif. Di sisi lain masih banyak guru 80-an, sementara muridnya sudah memakai produk digital kontemporer. Akibatnya, sedikit banyak para murid mempunyai pandangan berbeda dengan guru. Pertumbuhan dan perkembangan era digital ini melahirkan pandangan baru pada semua bidang kehidupan manusia, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Sehingga menuntut guru sebagai agent of change terhadap siswa mempunyai peran penting agar tidak ada murid yang terisolasi dalam informasi. Menjadi guru era 80-an berbeda dengan era digital. Karisma guru tidak lagi menjadi prioritas utama, akan tetapi harus dipadukan dengan kemampuan nyata saat ini. Karena itu, pendidikan merupakan salah satu tonggak utama dalam perkembangan sebuah bangsa. Melalui pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan lulusan yang mampu berdaya saing. Salah satu elemen penting dalam pendidikan adalah ketersediaan tenaga guru yang kompeten dan profesionalitas dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Kompetensi Guru PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 disebutkan, ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompentensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru merupakan kemampuan guru untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan kewajiban pembelajaran secara profesional dan bertanggung jawab. Menurut UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 10, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Berdasarkan Permendiknas 16/2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama. Yaitu, kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Keempat bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri-sendiri. Melainkan saling berhubungan dan saling memengaruhi dan mempunyai hubungan hierarkis. Sertifikasi Guru Sertifikasi guru merupakan upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan Depdiknas, 20081. Menurut Puguh, peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru SMK dapat dilakukan dengan beberapa cara. Antara lain, studi lanjut program strata 2, kursus dan pelatihan, pemanfaatan jurnal, seminar, kerja sama antara lembaga profesi, dan lain lain. Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Demikian juga warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus pasal 5 ayat 2, 3, dan 4.

tantangan guru di era digital